Jumat, 18 Oktober 2013

Pentingnya Sebuah Motivasi Belajar Siswa

Motivasi Belajar Siswa - Pada saat ini sering kali telah ada banyak siswa yang membolos pelajaran tertentu, dan hal ini adalah wujud kurangnya sebuah motivasi belajar siswa. Bahkan dengan tetap memakai pakaian seragam sekolah masih terdapat banyak siswa yang masih berkeliaran di tempat-tempat umum. Pada saat ditanya dengan terkadang mereka hanya menjawab bosan dengan mata pelajarannya.

Maka dari itu sebuah kebosanan di dalam belajar adalah salah satu indikasi perwujudan rendahnya motivasi pada diri siswa. Dan hal Ini cukup jelas sekali akan dapat merugikan siswa. Dan oleh karena itu seorang guru dan juga para orang tua sangat perlu mengkaji beberapa siswa sering kali bolos pelajaran. Dan para guru maupun orang perlu mencari sebuah solusi terbaik supaya para siswa tidak lagi melakukan tindakan bolos serta bosan belajar.

Hal yang paling utama dan terpenting untuk seorang pelajar ialah adanya sebuah motivasi. Motivasi itu sendiri ialah sebuah dorongan untuk dapat melakukan sebuah kegiatan belajar siswa dengan sepenuh hati. Untuk para pelajar sebuah motivasi ini dapat di katakana sebagai kendaraan dan siswa adalah bensinnya. Tidak akan pernah ada artinya apabila sebagus apapun kendaraannya tanpa adanya sebuah bahan. Dan begitu pula halnya dengan sebuah motivasi

Motivasi adalah dorongan untuk melakukan suatu kegiatan dengan baik. Dengan demikian, Dengan adanya sebuah motivasi belajar maka para siswa di harapkan untuk dapat menggerakkan keinginan mereka belajar secara maksimal. Dan apabila di kelompokkan, maka dengan adanya sebuah motivasi ini sebuah motivasi dapat di bagi menjadi dua kelompok yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Sebuah motivasi intrinsik ialah sebuah dorongan untuk dapat melakukan yang berasal dari dalam setiap diri orang, dalam hal ini salah satu upaya yang dapat di lakukan adalah dengan pihak para orang tua maupun guru selalu dapat mendorong para pelajar untuk melakukan sebuah motivasi belajar.

Motivasi belajar siswa yang tergolong motivasi ekstrinsik ialah sebuah dorongan dari luar pelajar itu sendiri. Untuk mendorong motivasi golongan ini para guru di wajibkan untuk memiliki sebuah trik tersendiri untuk dapat membangkitkan kemauan sebuah motivasi belajar siswa.

Selasa, 15 Oktober 2013

Akuntansi Pajak (Part II)

Akuntansi Pajak - Terdapat berbagai macam pajak yang ada di Indonesia. Diantaranya Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Penyetoran pajak pengahasilan (Pph) pasal 21 adalah penyetoran kewajiban karyawan yang dipotong dari penghasilannya sesuai UU yang tidak terkait dengan kekayaan perusahaan. Jadi pajak penghasilah tidak dapat dicatat sebagai biaya dibayar dimuka.

Pihak yang wajib membayar pajak disebut sebagai subjek pajak. Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, subyek pajak penghasilan adalah: “Subyek pajak pribadi yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.” Sedangkan orang atau badan yang dikenai pajak disebut wajib pajak. Sedangkan objek yang menyebabkan seseorang atau badan dikenai pajak disebut dengan Objek Pajak.

Pada Januari 2013, Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) berubah. Wajib Pajak tidak kawin dan tidak mempunyai tanggungan PTKP-nya sebesar Rp 24.300.000,00 atau setara dengan Rp 2.025.000,00 per bulan. Sedangkan tarif pajak penghasilan sebagai berikut :
PKP (Rp)
Tarif Pajak
Sampai dengan 50 juta
5 %
50 juta – 250 juta
15 %
250 juta – 500 juta
25 %
Lebih dari 500 juta
30 %

Saat membayar angsuran pajak, perusahaan menjurnal sebagai berikut :

Beban/Pajak Dibayar dimuka Rp xxx (Debet)

 
      Kas Rp xxx (Kredit)

Sedangkan pajak untuk karyawan (PPh 21) perusahaan hanya menghitung dan memotong dari gaji yang dibayarkan. Pada saat pembayaran gaji :

- Biaya Gaji Rp xxx (Debet)

           Pajak penghasilan (PPh 21) Rp xxx (Kredit)

           Kas ( Gaji yang dibayarkan) Rp xxx (Kredit)

Saat menyetor ke kas Negara dijurnal sebagai berikut :

Pajak penghasilan (pph 21) Rp xxx (Debet)

         Kas Rp xxx (Kredit)

Pajak lain yang sering menjadi tanggungan masyarakat adalah PPN (Pajak Pertambahan Nilai), yaitu saat melakukan belanja barang yang mengandung pajak. Sebagian uang /kas yang dibayarkan saat membeli merupakan pembayaran Utang PPN (PPN Masukan). Kemudian perusahaan memungut PPN (PPN Keluaran) pada saat menjual sehingga timbul utang kepada Negara. Utang tersebut dikompensasikan langsung dengan beban pajak yang terjadi pada saat membeli barang tersebut (PPN Masukan).

Jurnal yang dibuat saat pembelian barang :
Pembelian/Persediaan barang dagang    Rp xxx (Debet)  
PPN                                                    Rp xxx (Debet)    
            Kas/utang                                                       Rp xxx (Kredit)

Jurnal yang dibuat saat penjualan barang :
Kas/Piutang                                               Rp xxx (Debet)  
            Penjualan                                                       Rp xxx (Kredit)
            PPN                                                                 Rp xxx (Kredit)

Jurnal pada saat penyetoran ke kas negara :
PPN                                                            Rp xxx (Debet)

      Kas                                                                             Rp xxx (Kredit)

Info lebih lengkap silahkan kunjungi Akuntansi Pajak part I